Header Ads

  • Breaking News

    Saat Mesir dan Ottoman Berebut Laut Merah

    Sejak abad ke-16, pesisir Laut Merah berada di bawah kekuasaan nominal Kekaisaran Ottoman. Namun kontrol mereka di wilayah ini sangat lemah, terutama di kota-kota pelabuhan strategis.

    Ottoman lebih fokus pada Mesir, Hijaz, dan jalur perdagangan selatan Laut Merah. Pesisir Eritrea dan Sudan tetap semi-otonom, hanya diawasi melalui pejabat administratif yang lemah.

    Pada awal abad ke-19, Mesir di bawah Muhammad Ali Pasha mulai memperluas pengaruhnya di Laut Merah. Tujuannya untuk mengamankan jalur perdagangan dan meningkatkan kekuatan militer regional.

    Mesir menempatkan garnisun di pelabuhan utama seperti Massawa dan Suakin, serta mengirim pasukan modern dengan peralatan Eropa. Strategi ini menunjukkan ambisi Mesir untuk mengendalikan jalur Laut Merah sepenuhnya.

    Ottoman menanggapi kehadiran Mesir secara nominal. Mereka mengklaim kekuasaan atas pesisir, namun secara praktis tidak mampu menahan ekspansi Mesir.

    Persaingan ini bukan sekadar militer, tetapi juga terkait ekonomi. Pelabuhan Laut Merah menjadi jalur penting perdagangan antara Mesir, Jazirah Arab, dan India.

    Mesir memanfaatkan kelemahan administrasi Ottoman untuk memperkuat kontrol, menegaskan posisi mereka sebagai kekuatan regional yang berkembang.

    Seiring waktu, persaingan Mesir dan Ottoman semakin nyata. Ottoman mencoba mempertahankan klaim formal, namun garnisun Mesir dan pengaruhnya di laut menunjukkan superioritas praktis.

    Peningkatan kekuatan militer Mesir memungkinkan mereka mengamankan rute laut dan mengontrol perdagangan rempah, kopi, dan barang strategis lainnya.

    Ottoman, meski nominal penguasa, tidak mampu mengerahkan pasukan besar ke pesisir, karena prioritas mereka tetap pada konflik internal dan wilayah Mesir.

    Persaingan ini memuncak pada dekade 1820-an hingga 1840-an, ketika Mesir menguasai sebagian besar pelabuhan pesisir Laut Merah, sementara Ottoman hanya memiliki klaim administratif.

    Kekuatan Mesir di Laut Merah menunjukkan bagaimana negara semi-otonom dapat memanfaatkan kelemahan imperium besar. Muhammad Ali Pasha membuktikan kemampuan militer dan diplomasi modernnya.

    Pelabuhan strategis menjadi pusat pengaruh Mesir, memungkinkan mereka mengontrol perdagangan dan jalur logistik ke Jazirah Arab dan Afrika timur.

    Ottoman berusaha mempertahankan pengaruh melalui perjanjian diplomatik, tetapi kekuatan Mesir tetap dominan di lapangan.

    Kontrol Mesir di pesisir berlangsung kurang lebih dua dekade. Setelah Perang Mesir–Turki 1840, tekanan internasional memaksa Mesir menarik pasukannya.

    Meskipun mundur, pengaruh Mesir meninggalkan jejak administratif dan militer yang signifikan di pesisir Laut Merah.

    Persaingan ini menegaskan pentingnya Laut Merah sebagai jalur geopolitik dan ekonomi, yang menjadi pusat perhatian kekuatan regional dan global.

    Keberhasilan Mesir memanfaatkan kelemahan Ottoman menjadi pelajaran klasik strategi militer: superioritas administratif dan modernisasi pasukan bisa mengungguli klaim nominal kekaisaran.

    Setelah Mesir mundur, Ottoman tetap nominal berkuasa, namun pengaruh nyata di Laut Merah tetap lemah hingga kedatangan kolonial Eropa.

    Sejarah persaingan Mesir–Ottoman di Laut Merah menjadi cermin bagaimana kekuatan regional mampu merebut kendali jalur strategis, meski menghadapi imperium besar dengan klaim formal.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad